


Dear Glediz.
Dari pic kamu yang terbaru dengan gown yang cantik, telah aku perbesar 200% lalu di crop. Hasilnya seperti yang tampak. Aku juga memuat pic kamu bertiga mungkin dengan ibu dan kakakmu. Tapi kok tampak lain sekali karakternya. Makanya aku ragu buat melakukan profilling ulang. Selain multiplying seperti itu akan menghasilkan gurat2 yang bisa memberikan isyarat2 palsu yang bakal menyebabkan asumsi yang ngawur. Maaf, pic awal kamu tampak sekali ras Melayu bahkan aku menduga suku Sunda. Tapi dari 2 pic terakhir kamu dominan ras Semit atau Hindi. Dan aku belum pernah melakukan profilling buat ras2 ini. Pernah kulakukan kepada ras Nigger tapi hasilnya kurang memuaskan karena tekstur kulit wajah Nigger banyak bernoda vlek hitam atau legam. Kukira tanda gangguan kesehatan, tak tahunya tanda lahir. Seperti juga ras Semit yang kelopak matanya biasa berwarna gelap bukan karena penggunaan cerlak mata tapi merupakan ciri ras atau tanda lahir.
Kalau kamu mau ganti pic dengan pasfoto tampak kedua daun telinga. Aku akan coba lakukan profilling ulang. Kalau nantinya kamu merasa cocok dengan asumsi atas kondisi kesehatan pisik/psikis/emosi, kita bisa lakukan pertemuan buat perawatan. Agaknya pada saat pic dibuat, emosi kamu lagi labil. Itu dugaan kasarku. Bulan Mei ini saat terakhir aku bertugas di Jakarta, selanjutnya awal Juni 2006 aku sudah kembali ke Tangerang ketempat domisiliku.
Tolong dijawab dengan jujur ya, lantas pic awal kita kenal itu pic siapa? Makanya seperti kamu bilang pesan2ku seperti yang terobsesi. Sosok pada pic itu sungguh mempesona hatiku lho Diz. Meskipun aku sadar kalau modal psikisku sudah hancur2an. Kalau mungkin aku ingin jumpa dimanapun dia berada meski sebentar saja. Imbalannya, aku akan bantu kamu bagaimana caranya untuk menangkal dan menghilangkan stress. Kalau dianya itu kamu, ayo kita wujudkan impian kita bersama.
Iya sih aku juga menggunakan pic berupa tampilan geo-radar yang aku kutip dari google. Tapi pic asli sempat kutampilkan selama beberapa hari sampai kamu melihatnya seperti itulah aku. Sekarang kuganti lagi buat menjaga jangan sampai tampilanku di astaga terbaca oleh mantan isteriku.
Pendidikanku MM lokal, isteriku MBA yang disabetnya selagi masih di Amerika. Isteriku dari keluarga kaya raya, sedangkan aku dari keluarga sederhana. Sebetulnya dengan pernikahanku itu aku tinggal enjoy, tapi bagiku gak ada istilah pensiun lho. Aku mendampingi isteriku bekerja di perusahaan mertua. Tapi aku tak mau terlena dengan kehidupan mewah hasil kucuran keringat mertua. Aku juga melakukan kegiatan ekonomi sekalian membimbing isteriku belajar menghadapi hidup mandiri. Semangatku masih menggebu, ingin punya fabrik manufaktur alat2 elektronik rumah tangga. Sayang dong kalau pengetahuan kami yang bisa bernilai ekonomis menjadi mubazir begitu.
Aku akan akui buat kamu sejujurnya kenapa aku cari pasangan atau teman yang melek iptek.
Maaf, karena dulu isteriku gaptek banget. Urusan akunting isteriku handal. 3 tahun sebagai isteri dia nyaris sempurna. Sungguh ratu rumahtangga. Dia sosok yang mempesona dan tampilannya awet muda banget. Hanya saja kegaptekan isteriku menjadikan kemampuan iptekku sulit maju dan berkembang. Kalau aku lagi merancang sesuatu, tentunya aku buka sejumlah buku referensi. Sambil melakukan ujicoba elektronika yang terdiri dari macam2 komponen. Begitu isteriku datang, pas aku lagi mandi. Begitu selesai mandi, selalu saja apa2 yang ada diatas meja kerjaku sudah berubah. Iya sih ruang kerjaku jadi bersih harum, tapi buku2 sudah kembali ke rak. Komponen elektronik hijrah ke kantung kresek, begitu juga benda2 kerja. Mabok dong akunya, meski aku sadar kalau rumah adalah dominasi isteri. Tapi ternyata sering menjalar juga ke ruang kerja lainnya. Misalnya kalau isteriku berkunjung ke bengkel atau tempat kerja. Gak boleh aja melihat barang2 apapun lagi berantakan. Setahun yang lalu kami dipisahkan oleh keputusan Pengadilan. Selepas iddah dia menikah dengan putra salah satu kolega bapaknya. Sekarang dia tinggal di Kalimantan Timur. Subhanallah, hamba mohon ampun kepada Illahi Rabbi. Maaf ya Diz, semoga ini bukan ghibah. Tapi begitulah kondisi hidupku, makanya betapa aku sebegitu antusias kepadamu. Sosok wanita idamanku yang cantik, shalihah, mandiri, designer manufaktur. Kita punya kedekatan2 yang nyaris mirip. Ini mah bukannya obsesi2 lagi. Tapi boleh jadi aku langsung kesurupan. Hehehe, kamu pasti tertawa dan mengira kalau aku gak waras. Meskipun saat ini potensiku yang kayak belatung yang bisanya cuma uyek uyek gak berdaya, kok kepingin terbang ke langit jingga seperti garuda gagah memperkosa.
No comments:
Post a Comment